Traditional Malay Ontology: 1. Dunia: inhabited by Man, animals, plants, objects, spirits; 2. Pusat Tasik Pauh Janggi: inhabited by Nagas, Jins, Garudas; 3. Padang Jauh dan Puncak Gunung: inhabited by Giants, jins; 4. Pulau Buah: inhabited by Ancestral spirits; 5. Kayangan: inhabited by Dewa, Perman; 6. Dasar Laut: inhabited by Raja Lebis. 

Pokok Pauh Janggi and the Giant Crab puppets used in Wayang Kulit (see Walter Skeat's Malay Magic, is of the ) ... and could that be Haji Batu making his way up to the top of the tree?

The the Malay ideal of female beauty the cheeks are like a sliced mango - pipi-nya saperti pauh di-layang, and the heels like a turned (or peeled) mango - .. tumit-nya saperti pauh di-larek (see Liaw Yok Fan)

According to Malay folklore, in the ocean deep, there is a great whirlpool known as the 'Pusat Tasek' or the 'navel of the seas'. At the centre of this whirlpool, there is an enormous tree known as the Pokok Pauh Janggi. ‘Pauh’ is the Malay name for the mango and it is likely that the fabled 'Pokok Pauh Janggi' is a mango tree and not a coco de mer palm as contemporary nomenclature in the region would suggest. The name janggi probably derives from the Toroja word 'djjandji' which like the Malay 'buah' means 'fruit'. Antonio Pigafetta, a mariner on Ferdinand Magellan's pioneering voyage of ‘discovery’ (1518-1522), mentions local tales of an island surrounded by whirlpools, somewhere north or south of Java Major (Borneo), called Puzathaer  (Pusat air?) on which there was a very large tree in whose branches perch enormous birds called Garuda. The fruit of this tree was said to be 'larger than a cucumber.' This size comparison, which must surely be with the in terms of the chayote cucumber from the Americas, suggests that the tree concerned was, indeed, a mango tree rather than, as some suggest, a coco de mer.​ The location of this Pusat Tasek is however variable according to the source of the myth one follows. According to a Perak legend associated with the installation of Sultan Mudzaffar Shah I, the Pusat Tasek is located somewhere near the mouth of the Perak river.

Menurut cerita rakyat Melayu, jauh di laut yang dalam, ada satu pusaran air hebat yang dikenali sebagai 'Pusat Tasek'. Di tengah-tengah pusaran air ini, terdapat sebuah pokok besar yang dikenali sebagai Pokok Pauh Janggi. 'Pauh' adalah nama Melayu asal bagi mangga dan kemungkinan besar 'Pokok Pauh Janggi' adalah pokok mangga dan bukannya sejenis pokok kelapa laut fahaman kontemporari di rantau ini. Nama janggi mungkin berasal dari perkataan bahasa Toroja 'djjandji' yang sama ertinya dengan perkataan Melayu 'buah'. Antonio Pigafetta, pelaut kapal Ferdinand Magellan dalam pengembaran ‘penemuan’ nya (1518-1522), melaporkan cerita tempatan tentang sebuah pulau yang dikelilingi oleh pusaran air, di suatu tempat ke utara atau ke selatan Java Major (Borneo), yang dipanggil Puzathaer (Pusat air?) Di pulau ini terdapat pokok besar yang dahannya diduduki burung-burung besar bernama Garuda. Buah pohon ini dikatakan 'lebih besar daripada timun.' Perbandingan saiz ini, yang pastinya merujuk kepada sayur timun chayote dari benua Amerika, agaknya bererti pokok berkenaan adalah pokok mangga dan bukannya, sebagaimaa yang dipercayai oleh sebahagian orang, buah kelapa laut. Bagaimanapun, lokasi Pusat Tasek ini berubah mengikut sumber mitos yang di ikut. Menurut legenda Perak yang berkaitan dengan pertabalan Sultan Mudzaffar Shah I, Pusat Tasek terletak di suatu tempat berhampiran muara sungai Perak.

It is also said that on the ocean floor, at the bottom of the 'pusat tasek', there sits a giant crab blocking the opening of a cavern. It is the daily movements of this crab, unblocking and reblocking the cavern, that allow the waters of the oceans to drain cyclically, causing both the currents and the tides. These oceanic flows themselves are sometimes personified as a regular visitor who comes and goes - the Mambang Tali Harus, a kind of spirit who is said to go back and forth from the navel of the seas (bĕrulang ka pusat tasek). Rooted at this centre of tidal activity is the fabulous Pokok Pauh Janggi that reaches up to the heavens. In the tale of Haji Batu, a man, journeying to perform the Haj, had to cross the fearsome Navel of the Seas, a dangerous and fiendish place (Siapa terjatuh atau tergelincir, tersuruplah ia ke dalam pusar. Tempat menanti segala mara bahaya. Tempat duduk menantinya Nenek Sepit Pentala Naga di Laut Buih Gelombang Tujuh. Kalau si lemah yang sampai, maka hilang ghaiblah ia di mulut Raja Naga yang maha bisa). As Haji Batu's ship went down, he clung to the Pokok Pauh Janggi, and following instructions he had received in a dream, drew himself up on 7 nails that he drove into the tree. When he reached the top, he found the nest of the mythical Burong Roc (Garuda) that lived there.  He waited therein and when the Roc returned, he attached himself to the bird and flew Westward on his Journey to Mecca. (see Walter William Skeat's Malay Magic).

Dikatakan  juga bahawa di dasar lautan, di bahagian bawah 'pusat tasek', terdapat ketam gergasi menyekat pembukaan satu gua. Gerakan harian ketam ini  membenarkan perairan lautan disalurkan secara kitar dan menyebabkan arus dan pasang surut. Aliran laut ini sendiri kadang-kadang dipersonifikasikan sebagai seorang pelawat yang datang dan pergi - Mambang Tali Harus yang 'bĕrulang ka tengah tasek'. Berakar di dasar laut di tempat pusat tasek adalah Pokok Pauh Janggi yang tingginya sampai ke langit. Dalam kisah Haji Batu, seorang lelaki, yang dalam perjalanan untuk menunaikan fardu haji terpaksa menyeberangi Pusat Tasik Puah Janggi ini, yang sangat merbahaya kerana 'Siapa terjatuh atau tergelincir, tersuruplah ke dalam Tempat menanti semua mara bahaya Tempat duduk menanti Nenek Sepit Pentala Naga di Laut Buih Gelombang Tujuh. Kalau yang lemah sampai hilang, maka hilangnya ia di mulut Raja Naga yang mampu. Ketika kapal Haji Batu turun tenggelam, dia berpegang teguh kepada Pokok Pauh Janggi di sana, dan mengikuti arahan yang telah diterima dalam mimpi, menarik dirinya naik ke atas memakai 7 kuku yang dia memahat ke dalam pokok itu. Apabila dia sampai ke puncak, dia mendapati sarang Burong Roc (Garuda) mitos yang hidup di sana. Dia menunggu di dalamnya dan ketika Roc kembali, dia memegang pada burung itu dan terbang ke arah Barat dalam perjalanannya ke Mekah.

In another Malay tale, the Hikayat Jaya Langkara, a quest for the healing saffron flower leads the Princess Ratna Kasina to a mountain at the pusat tasek where the rising tide brings the miraculous flower up within her reach. While there is no mention of the Pokok Pauh Janggi in this fable, the buah Pauh appears twice in the list of similes used to extoll the beauty of Princess, maintaining the metonymic relation of the mango to the navel of the seas. Princess Ratna Kasina is said to have cheeks like sliced mango (pipi-nya saperti pauh di-layang), and heels like turned (or peeled) mango (tumit-nya saperti pauh di-larek) - dahi-nya bagai bintang timor, hidong-nya bagai melor jantan, pipi-nya saperti pauh di-layang, telinga-nya saperti telepok laboh, rambutnya saperti mayang mengurai,kening saperti taji di-bentuk dan gigi-nya saperti saga merekah, dagu-nya saperti telur burung, pinggang-nya saperti pingang-nya kerengga, kaki-nya saperti kaldai dan tumit-nya saperti pauh di-larek, lengan-nya buntaran, dan betis-nya bagai bunting padi". 

Dalam kisah Melayu yang lain, bernama Hikayat Jaya Langkara, pencarian untuk bunga kunyit ajaib membawa Putri Ratna Kasina ke sebuah gunung di pusat tasek di mana air pasang yang semakin meningkat membawa bunga mujarab itu dalam jangkauannya. Walaupun tidak tersebut tentang Pokok Pauh Janggi dalam dongeng ini, buah Pauh muncul dua kali dalam senarai persamaan yang digunakan untuk memuliakan keindahan Puteri tersebut, dan sedemikian hubungan metonymic mangga ke pusat laut dikekalkan. Putri Ratna Kasina dikatakan mempunyai pipi seperti pauh di-layang, dan tumitnya pauh di-larek - ... dahi-nya bagai bintang timor, hidong-nya bagai melor jantan, pipi-nya seperti pauh di-layang, telinga-nya seperti telepok laboh, rambutnya seperti mayang mengurai, kening seperti taji di-bentuk dan gigi seperti saga cracked, burung, pinggang-nya seperti pingang-nya kerengga, kaki-nya seperti kaldai dan tumitnya seperti pauh di-larek, lengan-nya buntaran, dan betis nya bagai bunting padi" 

 

The Malay motif of the pusat tasik pauh janggi appears to exemplify a more general Southeast Asian ontological structure -

  1. The navel of the sea drains the waters of the world

  2. A submarine tree or world pillar at the navel links the human realm to both the underworld and the skyworld

  3. There are mythic creatures dwelling at the navel of the seas at the base of the tree or pillar

  4. The ebb and flow of tides are due to the movements of the creature blocking the drain at the navel 

  5. The ocean currents are due to water flowing in and out of the drain at the navel 

  6. Earthquakes are caused by creature at navel of the sea shaking the world pillar

  7. There are relationship between these flows to the movement of the Sun and Moon and events like eclipses

  8. Rising sea levels and flooding are associated with the navel of the sea.

Motif pusat tasik pauh janggi Melayu menunjukkan struktur ontologi Asia Tenggara yang lebih umum (Lihat Paul Kekai Manasala memberikan imej komposit) -

  1. Seluruh air di dunia mengalir ke Pusat Tasek

  2. Pokok atau tiang seri bawah laut yang bertapak di bawah pusat pusar menghubungkan alam manusia ke alam bawah dan alam langit

  3. Terdapat makhluk mitos yang tinggal di pusar di kaki pokok atau tiang tersebut

  4. Pasang surut air lautan adalah disebabkan oleh pergerakan makhluk yang menyekat aliran air masuk lubuk di bawah pusak tasek

  5. Arus lautan adalah disebabkan oleh air mengalir kedalam dan keluar dari lubuk di bawah pusat tasek

  6. Gempa bumi disebabkan oleh makhluk di pusat tasek yang mengguncang tiang seri dunia

  7. Terdapat hubungan di antara aliran air ini dengan pergerakan Matahari dan Bulan dan peristiwa seperti gerhana

  8. Banjir laut dan paras laut yang meningkat dikaitkan dengan pusat laut.

Sources

http://www.gutenberg.org/files/47873/47873-h/47873-h.htm

http://sambali.blogspot.com/2008/04/kuroshio-current-and-navel-of-sea.html

http://awangbangsal.blogspot.com/2010/11/pauh-janggi.html?q=pauh

https://books.google.ca/books?id=YAsZDAAAQBAJ&q=saffron#v=onepage&q=hikayat%20jaya%20langkara&f=false

https://www.biodiversitylibrary.org/page/41795648#page/199/mode/1up

https://books.google.com.my/books?id=-AR-V3ymAzoC&pg=PA274&lpg=PA274&dq=mohd+taib+osman+pusat+tasik&source=bl&ots=Ck_2ts5cvN&sig=ACfU3U189ige7-t0nqKA3yKcLDIurDnuoQ&hl=en&sa=X&ved=2ahUKEwi688zh_sDmAhVT8XMBHaXlC1QQ6AEwAXoECAwQAQ#v=onepage&q=mohd%20taib%20osman%20pusat%20tasik&f=false

http://catatanberkat.blogspot.com/2015/05/rahsia-beting-bersah.html

© 2018 Niranjan Rajah

This site was designed with the
.com
website builder. Create your website today.
Start Now